Cyber Warfare: Sudah Siapkah Kita Menghadapinya?

Penulis

Dr. Ir. Rudy Agus Gemilang Gultom, M.Sc.

Pengantar

Di era Internet of Things (IoT) dan Revolusi Industri 4.0 dewasa ini, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa penggunaan akses Internet di ruang siber (cyberspace) yang menawarkan beragam fitur atau aplikasi menarik seperti jejaring sosial media facebook, twitter, youtube, whatsapp, instagram, portal/website, email, dan lainnya telah memicu terjadinya globalisasi informasi di seluruh belahan dunia. Hal ini berdampak terhadap bergesernya pemahaman terhadap kekuatan (power) dan kedaulatan (sovereignity), pertahanan negara (state defense) dan ketahanan nasional (national resilience) suatu negara.

Saat ini, kekuatan dan kedaulatan suatu negara tidak semata-mata dinilai hanya dari seberapa besar kekuatan militer atau ekonomi yang dimilikinya, tetapi tetapi juga tergantung dari aspek penguasaan dan pemberdayaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan ruang siber. Hal tersebut terlihat dari beragam aktivitas dan kegiatan mulai dari yang bersifat personal hingga tata kelola pemerintahan dan militer yang tidak terlepas dari pemanfaatan TIK menggunakan akses internet dalam rangka memberikan manfaat besar bagi kemajuan, kemakmuran, dan kejayaan suatu negara.

Cyber warfare (atau Cyberwar) adalah bentuk perang modern di era digital menggunakan sistem komputer dan jaringan sistem komputer melalui ruang siber (cyberspace) sebagai bentuk strategi menyerang (ofensif) maupun bertahan (defensif) terhadap informasi dan/atau sistem informasi serta infrastruktur kritis pihak lawan. Cyber warfare dikenal sebagai perang yang merujuk pada penggunaan dan pemanfaatan segala fitur atau fasilitas di Internet, seperti website, blog, email, social media dan sebagainya, termasuk penggunaan perangkat atau peralatan peretas (hacking tools). Saat ini, cyber warfare mungkin masih dikategorikan sebagai perang berskala rendah (low-level warfare), namun bisa menjadi bentuk peperangan yang sebenarnya (the real warfare).

Di Indonesia, konsep perang modern cyber warfare nampaknya masih belum menjadi bagian integral dari penyelenggaraan Sistem Pertahanan Negara (Sishanneg) untuk dapat digunakan mengantisipasi segala bentuk ATHG (Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan) baik yang dilakukan dari dalam dan/atau luar negeri, utamanya ruang siber. Hal ini mungkin disebabkan, Indonesia masih belum memiliki konsep kerangka sistem pertahanan siber yang terintegrasi secara nasional (NationalCyber Defense Framework) yang komprehensif, integral dan holistik untuk menghadapi tantangan cyber warfare saat ini dan di masa depan.

 


ISBN
978-602-5808-19-7

Tebal
422 halaman

Terbit
Cetakan pertama, Februari 2019

Penerbit
UNHAN Press, Universitas Pertahanan, Kawasan IPSC, Sentul, Bogor.

Harga
Rp. 250.000,- (Umum)
Rp. 200.000,- (Pelajar/Mahasiswa)

Pemesanan dapat menghubungi penulis via email.